Kamis, 14 Juli 2011

The Rotation

Assalammualaikum wr.wb

Disini saya ingin mencertakan kekhawatiran saya, kesedihan saya akan semua yang saya lihat. Sebagai seorang melankolis tentunya saya juga seorang pemikir dan bisa dibilang seorang perfeksionis. Jadi saya sangat terganggu sekali dengan apa yang tidak seharusnya terjadi.
Sebelum anda membaca inti tulisan saya, saya akan sedikit menjelaskan tentang apa yang mungkin tidak anda pahami tentang beberapa hal.
Saya hanyalah seorang muda, apapun yang terjadi di masa lalu bukan dalam kuasa saya dan sama sekali tanpa andil saya. Saya hanya bisa mewarisi apa yang telah diberikan kepada saya.
Nilai adalah sesuatu yang dianggap benar secara turun-temurun. Perwujudan nilai ini menelurkan norma. Norma adalah produk dari nilai, sementara norma itu adalah peraturan, baik yang tertulis maupun yang tidak tertulis. Jadi bisa disimpulkan norma yang ada ketika saya lahir atau saya masih muda sekarang, ada tanpa ada andil saya dan generasi saya.
Disini saya akan mengabaikan latar belakang agama saya, karena saya menginginkan ini lebih universal. Dan bahasan kita ini adalah norma-norma yang berlaku.
Dahulu waktu saya masih di sekolah dasar, saya diajarkan tentang tata cara kehidupan di pelajaran kewarganegaraan. Tentang hak dan kewajiban, menghormati guru, menghargai teman, tidak mencontek waktu ujian dan sebagainya.
Ketika saya SMP saya baru mengerti kalau hal-hal itu adalah norma-norma kehidupan yang kita miliki (agama, kesusilaan, kesopanan, hukum).
Dan di SMA saya baru mengerti proses terjadinya norma. Namun di masa ini saya bingung, saya diajarkan bahwa norma itu memiliki sanksi bagi para pelanggarnya, dan di norma kesusilaan dan kesopanan, sanksi atas norma diberikan oleh orang sekitar berupa pengucilan dan pembedaan.
Saya seseorang yang suka menyimak media, baik cetak maupun elektronik. Namun semakin hari semakin banyak hal yang membuat saya bingung. Bukan pelanggaran terhadap normanya, itu wajar, bahkan kalau mau ekstrem lagi menurut salah satu teori penyimpangan sosial, pelanggaran atas norma itu perlu. Tapi bahwa norma-norma ini sudah bergeser sedemikan jauhnya dan seperti membentuk setengah putaran.
Ada seorang anak yang bertindak sesuai norma (yang saya pelajari ketika SD) malah mendapatkan sanksi seorang pelanggar norma. Apakah itu wajar? Tentu saja tidak. Ada anak yang bertindak jujur ketika ujian, dan orang tuanya melakukan sedikit teguran kepada pihak sekolah atas apa yang dilakukan teman-teman anaknya (bertindak curang) malah dikucilkan dan diusir dari rumahnya sendiri.
Apa seperti itu? Kita hidup di jaman apa? Jaman dimana anak-anak muda kita dididik untuk takut melakukan hal yang benar?
Mencontek, hal yang kecil, sangat kecil sekali. Namun apabila ditumpuk dan menjadi kebiasaan, maka seseorang akan terbiasa membohongi nuraninya dan terbiasa berbuat salah. Satu tindakan itu bisa merubah segalanya dalam kehidupan kita. Jadi jangan remehkan satu tindakan yang kita lakukan.
Di kelas, anak yang berbuat jujur: dihina teman, dikucilkan, dibilang pelit, dibilang tidak setia kawan, dimarahi guru (kalau nilainya jelek) apa itu? Apa kita mau mengganti norma kita dari jujur=benar, curang=salah ke jujur=salah, curang=benar?
Sebenarnya terserah kita, kan kita yang menentukan norma buat anak-cucu kita nanti? Tapi apa ini yang kita inginkan? Mau jadikan negara ini negara pembohong? Negara curang?
Tentu saja tidak, ada yang masih cinta negara ini? Ada yang setuju dengan kata-kata tidak saya?
Mari kita renungkan saja, ini negara kita, baik-buruk ya terserah kita.
Wasalammualaikum wr.wb

Jumat, 01 Juli 2011

Eksistensi Faktor Eksternal dan Kehendak Bebas

Assalammualaikum readers

Beberapa hari yang lalu, saya memikirkan tentang satu hal. Hal itu adalah seperti yang tertera di atas yaitu eksistensi faktor eksternal dan kehendak bebas. Sebenarnya dua hal ini tidak terlalu berhubungan namun dapat dijelaskan dengan satu analogi.

Analogi yang kita bahas di sini adalah analogi petani cabai yang menanam cabai nya di lahan yang kekurangan air.

Seperti yang kita tahu dalam pertumbuhan tumbuhan berlaku dipengaruhi faktor eksternal dan faktor internal. Faktor internal berupa gen dan hormon, sementara faktor eksternal berupa sinar matahari, suhu, nutrisi dan kelembaban.

Setelah sang petani menanam tanamannya ternyata tidak semua tumbuhannya tumbuh, namun ada beberapa tumbuhan yang dapat tumbuh walau tidak tumbuh dengan sempurna. Hubungannya dalam dunia nyata adalah, ternyata faktor eksternal sangat berpengaruh terhadap kehidupan manusia. Di sini saya menitikberatkan kepada interaksi atau sosialisasi. Menurut teori agen sosialisasi, yang paling berperan dalam sosialisasi adalah keluarga, sekolah kemudian teman sebaya. Jelas sekali bahwa dalam perkembangan diri manusia juga ditentukan dari faktor eksternal.

Namun bagaimana bisa ditemukan fenomena seorang pemuka agama dari keluarga pelacur, dan teman-teman preman? Sisi lain dari analogi yang bisa mengungkapkannya. Anggap saja pemuka agama ini adalah tanaman yang dapat tumbuh.

Tanaman cabai tadi dapat tumbuh karena air masih ada (walau sedikit). Jadi fenomena ini dapat terjadi asalkan, sebelumnya pemuka agama ini telah mendapat pelajaran agama walau sedikit. Namun apabila dia tidak mendapat pelajaran agama sama sekali, dia tidak akan mungkin menjadi pemuka agama karena gagasan itu tidak pernah muncul di otaknya.

Apa hubungannya dengan kehendak bebas?

Manusia bisa memilih menjadi apa yang dia inginkan (mati atau tetap hidup, analogi tanaman cabai tadi) dalam lingkungan yang sangat terbatas. Namun masih dalam batas batas tertentu.

Batasan akan selalu ada, karena manusia memang terbatas.

Dan manusia yang melebihi batasan itu niscaya akan terjerumus terhadap kebingungan semata.



Sekian readers,kritik saran di tunggu
Wasalammualaikum