Sering sekali aku mendengar ungkapan ini. Aku kurang tahu darimana sumber aslinya, namun yang pasti sebagian orang menganggap ini benar. Pernyataan yang dikatakan orang-orang ini adalah "Semua agama adalah sama". Pernyataan ini menggelitik pikiranku dan memaksaku untuk menulis pendapatku tentangnya.
Agama adalah jalan hidup. Artinya semua yang kamu lakukan itu berdasarkan padanya. Kapan kamu bangun di pagi hari, bagaimana caramu makan, bagaimana caramu bekerja, bagaimana caramu bersosialisasi dengan orang lain itu berdasarkan pada agama yang kamu anut. Setiap persoalan kecil yang ditemui sehari-hari diputuskan menggunakan agama. Apalagi persoalan-persoalan besar seperti bagaimana cara bergaul dengan pemeluk agama lain, bagaimana cara berperang, bagaimana cara mengatur masyarakat dan negara.
Aku tidak menjudge sebuah agama itu benar atau salah disini, aku hanya mengatakan setiap agama itu berbeda. Bagaimana bisa dikatakan berbeda?
Orang-orang penganut teori "semua agama itu sama" sering mengatakan "agama-agama itu sama, mengajarkan kebajikan dan kebaikan"
Sanggahan: Memang semua agama, atau pada umumnya, mengajarkan kebajikan dan kebaikan. Karena itu adalah fungsi agama yang dicari oleh manusia. Rasa tenang, jalan hidup, cara hidup, tujuan hidup. Kalau ada agama yang mengajarkan kejahatan, ya mana ada yang mau memeluk? Tapi kalau kita lihat lebih lanjut, kebaikan dan kebajikan yang diajarkan setiap agama itu tidak sama. Tetap ada sudut pandang subjektif mengenai siapa yang perlu diberikan kebaikan dan kebajikan, mengenai bagaimana kebaikan dan kebijakan itu dilakukan, mengenai kapan dan mengapa kebaikan dan kebajikan itu dilakukan. Kata subjektif berarti memihak, berarti tidak sama antara satu dengan yang lain.
Pernyataan yang kedua "kalau kamu berbuat kebaikan, orang tidak peduli apa agamamu"
Sanggahan: Apa orang ateis tidak bisa berbuat kebaikan? Dan memang, tentu saja tidak ada yang peduli agamamu apa kalau kamu menolong orang. Kalau ada orang menolong saya mengambilkan barang saya yang jatuh, saya (dan saya kira anda semua) tidak akan repot-repot menanyakan agama orang itu. Tapi, apakah seluruh dunia berakhir disaat orang itu menolong saya? Tidak. Orang yang menolong saya bisa beragama apa saja. Misalkan dia beragama A. Dia akan pergi ke tempat ibadahnya, disana dia menyapa penganut seagamanya dengan sebuah salam B. Kemudian di tempat ibadahnya dia melakukan ibadah C. Tapi kalau orang itu beragama D? Mungkin dia akan langsung pulang ke rumahnya karena dia tidak ada ibadah di tempat ibadah di hari itu. Dia akan pulang ke rumah, berdoa bersama istrinya menggunakan doa E, kemudian pergi ke sebuah tempat untuk menghimpun uang dari pemeluk agamanya karena itu merupakan ibadah F.
Agama itu jalan hidup. Tak terbatas pada kebaikan dan kebajikan saja. Kitab suci berbeda, tertulis dengan bahasa yang berbeda-beda. Ibadah pun dengan cara yang berbeda-beda. Bagaimana mereka bisa mengatakannya sama? Saya atau siapapun, saya kira tidak berhak untuk menentukan mana yang anda kira benar. Anda harus tentukan sendiri, jangan biarkan orang lain mendikte apa yang anda percayai. Setiap orang boleh mengatakan apa yang mereka anggap benar dengan cara yang bertanggung jawab, tapi apa yang anggap benar harus anda pikir sendiri masak-masak. Jangan karena sebuah kalimat terlihat "benar" lantas anda percaya begitu saja.
Terima kasih telah membaca, sekali lagi ini hanya apa yang saya ingin ungkapkan, Bila ada yang tersinggung, saya mohon maaf sebesar-besarnya.
Sekali lagi terima kasih.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar